Jumat, 07 Januari 2011

Tragedy Lepasnya Hak Sepatu


Dari judulnya aja udah keliatan banget bahwa ni tulisan bakalan menceritakan kisah yg dramatis n tragis.
Ya. Anda sekalian perlu nyiapin kotak tissue untuk mencegah hal-hal yg tidak diinginkan misalnya, ingus keluar secara tiba-tiba. Wokeh.
Sebelum kita mulai, mari kita berdoa terlebih dahulu.

Mungkin inilah yg dinamakan  karma.
Jedhuaaaaaaaaaaaaaarrrr duar duar
(back sound: ban mbeledos)

Sore itu, qt ada jadwal ujian listening jm 3.

Pembaca: QT? LO AJA KALI GW G!
Hedeeeeeeeeeeeehhh.
Maksudnya tuh y Cho ma temen-temen sekelas gitoooooohhhhhh.
(tekanan darah= 160)

Qt dah dalam posisi di lab listening. Udah pada posisi siap tempur, n udah pada pemanasan leher 2 menitan. Tujuannya: ntr biar lemes ngelirik kanan-kiri. (pehatian, adegan dilakukan dibawah bimbingan orang tua)

“Lho kalian kok di sini?”, kata sang dosen memecah konsentrasi pemanasan tahap awal.
“Kan sekarang giliran kelas qt ujian listening kan pak..??!!”, kata qt kompak setelah diberi aba-aba oleh sang dirijen.
“Sekarang masih jadwalnya semester 1, kalian nanti jam setengah 4”, kata dosen penuh antusias.
Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…kepilis deh.

Kita pun keluar dng menggerutu n kumpul di kantin buat menyusun strategi perang. Tiba-tiba muncul Ulfi, Endang ma mbk Ser yg baru selesai memarkirkan motornya.

“Kalian kok g ke kelas?”
“Lho? Kok kalian baru datang? Ujiannya kn dh selesai.??”, kata bos Wanda dng ekting yg meyakinkan.
“Masak sih?”, kata mbk Ser.
“Gini deh, Klo g percaya, yuk Tanya dosen_nya.!!”, kata bos Wanda menantang.
“Yuk..”

Terjadilah adegan dorong-mendorong di area parkiran antara mbk Ser ma bos Wanda.
Aq g tau, kok mereka bisa dorong-dorongan gitu? Lagi praktek jadi pendorong mobil yg baik dan benar kali ya?!?!?!

Tiba-tiba.

“Ceplak”.

Patahlah hak sepatu bos Wanda kena dorongan maut mbk Ser.

Ternyata, diam-diam, tanpa diketahui oleh anggota BEM dan anak-anak Untag lain, mbk Ser ternyata telah berguru di kuil Saolin selama 500 tahun. Jadi tak heran klo dng sekali dorongan, patahlah hak sepatu bos Wanda.

Terjadilah perang mulut di antara keduanya yang kemudian dilanjutkan dengan perang dunia ke 3.

Bos Wanda ngelempar makek botol Aqua, dibales ma mbak Ser makek galon Aqua.
Bos Wanda ngelempar makek sandal, dibales ma mbak Ser makek sepatu.
Bos Wanda ngelempar makek koin, dibales ma mbak Ser dng menyanyikan lagu kopi darat.
Emang lagi ngamen buuuuuuuuuuuuuuukk…?!?!?!?!?!?

Ok. Perang lempar-melempar barusan cm karangan Cho Aza demi hiburan semata.

Lanjut.


 
 

 

Selagi mereka berperang, segera dng cekatan, Cho benerin tuh sepatu. Maklum, mantan sol sepatu keliling, jadi instingnya langsung keluar saat ngeliat tuh sepatu tergeletak tak berdaya.

Persoalan beres, qt pun menempuh ujian dengan senang hati dan riang gembira.
Tamat.

1 komentar:

gadhing Property mengatakan...

ih... geli Cho..
hhe ehe he ehe