Puisi berikut q dapat saat meminjam sebuah novel semasa SMA dulu. cukup menariklah buat dibaca.
Ketika berusia 1 tahun, ibu suapkan makanan dan memandikan kita.
Cara kita mengucapkan terimakasih kepadanya hanyalah dengan menangis sepanjang malam.
Apabila berusia 2 tahun, ibu mengajari kita bermain.
Kita ucapkan terimakasih dengan lari sambil tertawa terkekeh-kekeh saat dipanggil.
Menjelang usia kita 3 tahun, ibu menyediakan makanan dengan penuh rasa kasih sayng.
Kita ucapkan terimakasih dengan menumpahkan makanan ke lantai.
Ketika usia 4 tahun, ibu membelikan sekotak pensil warna.
Kita ucap terimakasih dengan mencoreti dinding rumah.
Berusia 5 tahun, ibu membelikan sepasang pakaian baru.
Kita ucapkan terimakasih dengan bergulingan ditanah kotor.
Setelah berusia 6 tahun, ibu menuntun tangan kita ke sekolah.
Kita ucapkan terimakasih dengan menjerit: ”aku tak mau sekolah, tak mau sekolah”
Apabila berusia 7 tahun, ibu membelikan sebuah bola.
Cara mengucapkan terimakasih ialah kita pecahkan kaca jendela tetangga.
Menjelang usia 8 tahun, ibu belikan es krim.
Kita ucapkan terimakasih dengan mengotori pakaian ibu.
Ketika usia 9 tahun, ibu mengantar kesekolah.
Kita ucapkan terimakasih kepadanya dengan membolos.
Berusia 10 tahun, ibu menghabiskan waktu seharian suntuk menemani kita kemana saja.
Kita ucapkan terimakasih dengan tidak bertegur sapa dengannya karena malu pada teman-teman.
Apabila berusia 12 tahun, ibu menyuruh mengerjakan pekerjaan rumah.
Kita ucapkan terimakasih dengan menonton televisi.
Menjelang usia 13 tahun, ibu suruh memakai pakaian yang menutup aurat.
Kita ucapkan terimaksih dengan memberitahu bahwa pakaian itu ketinggalan jaman.
Ketika berusia 14 tahun, ibu banting tulang bekerja untuk membayar iuran sekolah.
Kita ucapkan terimakasih kepadanya dengan tidak pernah menuruti perintahnya.
Berusia 15 tahun, ibu pulang kerja merindukan pelukan dan ciuman.
Kita ucapkan terimakasih dengan mengunci pintu kamar.
Menjelang usia 18 tahun, ibu menangis gembira mendengar kita masuk perguruan tinggi.
Kita ucapkan terimakasih kepadanya dengan bersuka ria bersama kawan-kawan di kafe.
Ketika berusia 19 tahun, ibu bersusah payah membayar iuran pengajian, mengantar kekampus dan menyeret koper kita ke kamar kos.
Kita hanya ucapkan selamat jalan pada ibu di luar kamar kos-kosan karena malu dengan kawan-kawan.
Berusia 20 tahun,ibu bertanya apakah kita sudah punya pacar atau calon suami.
Jawab kita, “itu bukan urusan ibu”.
Setelah berusia 21 tahun, ibu memberikan pandangan mengenai pekerjaan.
Kita bilang, “ aku tak mau jadi seperti ibu”
Ketika berusia 22-23 tahun, ibu membelikan perabot untuk rumah kita.
Di belakang ibu, kita katakana pada kawan-kawan, “perabot pilihan ibu itu kuno, tak sudi aku!”
Menjelang usia 24 tahun, ibu bertemu dengan calon menantunya dan bertanya tentang rencana masa depan.
Kita mendelik dan bersungut, “ibu, tolonglaaah!
Ketika berusia 25 tahun, ibu bercucuran keringat membiayai pernikahan kita.
Ibu menangis dan memberitahu kepada kita betapa dia sangat menyayangi kita, tetapi kita ucapkan terimakasih kepadanya dengan pindah rumah.
Pada usia 30 tahun, ibu menelpon memberikan nasehat dan petuah mengenai perawatan bayi.
Kita dengan mudah berkata, “itu dulu, sekarang jaman sudah modern, jelas beda”
Ketika berusia 40 tahun, ibu menelpon mengingatkan tentang kampung halaman.
Kita berkata,” kami sibuk, tak ada waktu pulang kampung”
Apabila usia 50 tahun, ibu jatuh sakit dan meminta kita menjaganya.
Kita bercerita mengenai kesibukan dan kisah-kisah orang tua yang menjadi beban kepada anak-anaknya
Dan kemudian suatu hari, kita mendapat berita ibu meninggal. Kabar bagaikan petir.
Dalam lelehan air mata, barulah segala perbuatan kita kepada ibu menerpa satu persatu.




2 komentar:
guud cho....
i love u mom.....
selamat hari Ibu ya Choo..
kek kek kek
Posting Komentar